SEJARAH PEMBANGKANGAN TENTARA
Apa yang kita pikirkan saat menonton televisi menyaksikan sepasukan tentara pawai di Istana Negara setiap 17 Agustus? Gagah, rapi, disiplin dan loyalitas adalah kesan yang mungkin terlintas di kepala kita. Dan telah menjadi pengetahuan umum sebagai profil tentara. Tetapi soal loyalitas ini ada cerita yang belum diketahui banyak orang. Ternyata loyalitas tentara kepada pemerintah pernah mengalami pasang surut. Ya, tentara pernah berencana mengintervensi keputusan-keputusan politik pemerintah.
Di buku Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi
ABRI, akademisi dari Queensland University, Ulf Sundhaussen, menulis bahwa relasi
militer dan politik pemerintah di awal berdirinya Republik Indonesia berjalan penuh
dinamika. Tentara pernah berkali-kali berupaya mengintervensi kebijakan pemimpin
Republik dengan pelbagai cara.
Buku ini sebagian besar isinya berasal dari tesis doktoral Sundhaussen
pada tahun 1971 di Monash University. Mengambil judul The Political
Orientations and Political Involvement of The Indonesian Officer Corps 1945-1966:
The Siliwangi Division and Army Headquarters, tesis ini lahir setelah
menempuh ratusan wawancara dan penelitian dokumen di Indonesia antara tahun
1967/1969 dan beberapa kali kunjungan di dekade 1970-an.
Ditulis dengan pendekatan kronologis, buku ini disusun
dengan dua tujuan; pertama, untuk mengisi khazanah publikasi ilmiah mengenai
relasi militer-sipil di Indonesia yang pada masa itu masih langka. Kedua,
untuk memberikan sumbangan ke arah pemahaman mengenai relasi sipil-militer di
negara-negara yang sedang berkembang.
Tesis utama buku ini adalah bahwa intervensi tentara kepada
pemerintahan sipil terjadi ketika institusi sipil mengalami pelemahan dan tidak
mampu mengatasi krisis bangsa. Sehingga tentara maju untuk membenahinya. Menurut
Sundhaussen, tentara tidak punya kepentingan untuk memasuki politik jika
keadaan bangsa tidak mendesak dan baik-baik saja. Dan terutama jika
problematika itu menyangkut dengan rumah tangga tentara yang eksklusif.
Bagi negara yang baru merdeka, konsolidasi militer bukanlah
kegiatan yang mudah dilakukan. Apalagi di tengah upaya seluruh elemen bangsa bersatu
membendung upaya Belanda kembali mencaplok wilayah-wilayah Indonesia. Ketika para
politisi sipil lebih mengandalkan strategi diplomasi daripada perjuangan
bersenjata ternyata peran tentara mengalami distorsi dan terkesan
dinomorduakan.
Sejak awal Republik Indonesia diproklamirkan, polemik dan
konflik datang dan pergi. Para pemimpin sipil seperti Sukarno, Hatta dan
Syahrir berbeda pandangan mengenai sistem politik, kepartaian, arti penting revolusi
dalam upaya menghalau upaya-upaya penjajah. Presidensialisme yang dikehendaki
Sukarno ternyata diganti dengan parlementarisme. PNI sebagai partai tunggal
direvisi oleh Maklumat Nomor X Hatta dengan memberlakukan sistem multipartai. Dan
tentara masih berkedudukan sebagai lembaga keamanan tanpa panglima di
tengah-tengah eksistensi laskar-laskar yang terpecah-pecah dalam loyalitasnya
kepada partai politik dan organisasi-organisasi perjuangan.
Ternyata jalan diplomasi yang dipercayai bakal mematahkan
rekolonisasi tidak menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Alih-alih berhasil mempertahankan
wilayah Republik yang luas itu diplomasi ternyata gagal sehingga membuat tentara
semkin tidak puas. Perdebatan antara pendukung diplomasi dan mengangkat senjata
tidak mencapai titik temu. Akhirnya pada Juni 1946, sekelompok tentara yang bersimpati
dengan pergerakan Persatuan Perjuangan dan membenci jalur diplomasi menculik Perdana
Menteri Syahrir.
Setelah kemerdekaan 100 persen berhasil dicapai, lalu RIS dan
APRIS dibubarkan, keuangan negara yang habis untuk menebus hasil-hasil
Konferensi Meja Bundar membuat ekonomi nasional morat-marit. Parlemen melihat
jumlah tentara yang terlalu banyak perlu dikurangi melalui reorganisasi tentara.
Politisi PNI meminta pengurangan jumlah tentara dan peremajaan struktur pemimpinnya.
Mosi Sophiaan itu dilihat tentara terlalu mencampuri urusan rumah tangganya.
Pada 17 Oktober 1952, ribuan massa berunjuk rasa di depan
Istana Negara meminta kepada Sukarno untuk membubarkan parlemen. Tentara mem-back
up unjuk rasa itu dengan mengikutsertakan tentara dan kendaraan lapis baja
yang moncong meriamnya diarahkan ke Istana. DPR buat mereka tidak punya
legitimasi politik lantaran kedudukannya yang alih-alih dipilih rakyat malah
diangkat secara politik.
Presiden Sukarno tidak setuju dengan tuntutan itu. Dia tegas
menolak didorong-dorong menjadi pemimpin diktator dengan berjanji akan menyelesaikan
masalah itu baik-baik dengan DPR.
Ketika Presiden Sukarno menunjuk Bambang Utoyo untuk
menjadi Kasad pada pertengan 1955, ternyata tentara tidak merestuinya. Penjabat
Kasad, Zulkifli Lubis tidak setuju keputusan itu mengingat kesepakatan tentara melalui
Piagam Yogyakarta mengedepankan senioritas untuk mengingsi posisi jabatan
panglima. Akibatnya pelantikan Bambang Utoyo tidak diselenggarakan melalui upacara
militer sebagaimana biasanya.
Upaya tentara untuk kembali mengintervensi pemerintah
datang pada saat hubungan mereka dengan pemimpin mereka A.H. Nasution
bergejolak. Pada akhir 1956, Panglima Divisi
Siliwangi mencoba mengganti Nasution dan pemerintahan parlementer. Zulkifli Lubis,
Sutoko, Kemal Idris melancarkan operasi penggulingan menggunakan pasukan di
bawah komando mereka. Mayor Djailani komandan RPKAD (Kopassus) mengerahkan pasukannya
untuk memulai operasi. Tetapi menyadari tidak ada pasukan lain yang muncul akhirnya
diputuskan mundur sampai Djailani sendiri berhasil diamankan dan diberhentikan
dari dinas TNI.
Puncak pembangkangan tentara terjadi pada penghujung decade
1950-an melalui gerakan PRRI dan Permesta. Gerakan protes itu timbul dari
ketimpangan pembangunan pusat pemerintahan di Jawa dengan daerah-daerah. Sementara
hasil pengolahan sumber daya ditarik ke Jakarta,daerah-daerah tidak memiliki
cukup fiskal untuk membangun dan mensejahterakan rakyatnya. Ini termasuk dengan
kesejahteraan tentara yang melarat. Sehingga penguasa perang di daerah diam-diam
menyetujui kegiatan-kegiatan penyelundupan ke luar negeri.
Pemimpin sipil dan tentara memutuskan mendukung gerakan ini.
Pemimpin-pemimpin Masyumi seperti Moh. Nasir, Syafrudin Prawiranegara, dan PSI
seperti Soemitro Djojohadikusumo memutuskan berjuang masuk ke hutan-hutan Sumatera.
Pemimpin tentara seperti Zulkifli Lubis, Ahmad Husein, Maludin Simbolon memimpin
tentara pro PRRI. Sedangkan Ventje Sumual bahkan Alex Kawilarang -yang memutuskan
pulang dari luar negeri- memimpin Permesta.
Tetapi perlawanan gerakan itu tidak bertahan lama. Berbulan-bulan
TNI dikirimkan untuk memadamkan gerakan perlawanan itu. Nasution akhirnya
berhasil memadamkan juga menangkap pemimpin-pemimpin PRRI dan Permesta.
Setelah memadamkan perlawanan itu untuk pertama kalinya
dalam sejarah tentara sepenuhnya solid dan loyal dibawah kepemimpinan panglimanya
Abdul Haris Nasution. Tetapi loyalitas tentara kepada Sukarno masih penuh
dinamika apalagi ketika menyusul kedekatan Sukarno dengan PKI. Pecahnya
peristiwa Dwikora, tragedi 30 September 1965, terbitnya Supersemar 1966 dan
pengambilalihan kekuasaan oleh Suharto setelahnya pelan-pelan berhasil “menertibkan”
tentara. Tidak ada lagi kisah pembangkangan tentara sejak jenderal itu resmi memerintah
pada 1967.
Sundhaussen dalam buku ini tidak menguraikan proses awal pembentukan
tentara di zaman Jepang: Peta. Padahal ide pembentukannya diinisiasi oleh
pemimpin-pemimpin sipil seperti Sukarno juga dipimpin oleh pemimpin sipil. Fase
sejarah ini penting untuk membantah pandangan keliru yang menganggap tentara dibentuk
oleh mereka sendiri pada 1945.
Judul : Politik
Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI
Penulis : Ulf
Sundhaussen
Penerbit : LP3ES
Tahun :
1986

Komentar
Posting Komentar